DAERAH-WAKATOBI

Lewat Kemenlu, Pemda Wakatobi Minta Presiden Bebaskan Warganya Dari Abu Sayyaf


Wakil Bupati Wakatobi, Ilmiati Daud meminta seluruh masyarakat khususnya di Wakatobi mendokaan korban penyanderaan Abu Sayyaf agar secepatnya bisa diselamatkan. Ali Hanafi

WAKATOBI, kabarbuton.com - Terkait kabar penyanderaan dua warga Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi oleh kelompok separatis Abu Sayyaf, Pemerintah Kabupaten Wakatobi melalui Kementerian Luar Negeri, meminta Presiden untuk segera menyelamatkan kedua tawanan tersebut.

Wakil Bupati Wakatobi, Ilmiati Daud berharap pihak keluarga bisa sabar dan tabah dan meminta agar mempercayakan masalah tersebut kepada pihak pemerintah. Apalagi, uang tembusan yang diminta Abu Sayyaf agar membebaskan kedua sandera itu cukup besar mencapai Rp 10 miliar.

"Saya dan Pak Bupati, kita sudah gunakan semua akses yang bisa kita tempuh. Dan kita semua meminta agar seluruh masyarakat Wakatobi ikut mendoakan keselamatan mereka," kata Ilmiati.

Penyanderaan dua warga Wakatobi itu mengundang perhatian dari berbagai pihak. Seperti Dariono, salah satu aktivisi di Wakatobi melakukan aksi teatrikal pembungkaman di bundaran Pangulubelo dan di depan kantor Bupati Wakatobi. Dalam aksinya itu, Dariono melakukan aksi tutup mulut dengan mengisolasi mulutnya serta memegang poster bertuliskan "Pak Presiden Selamatkan Saudara Kami Asal Wakatobi Yang di Sandera Abu Sayyaf".

Sebelumnya diberitakan, Dua orang warga Indonesia asal Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, disandera kelompok teroris Abu Sayyar saat mencari ikan di perairan Sandakan, dekat perbatasan Malaysia dan Philipina. Kabar keduanya diketaui melalui vidoe yang viral di akun Facebook.

Dalam rekaman vidoe berdurasi kurang lebih 30 detik itu, korban mengaku warga negara Indonesia dan meminta pemerintah Indonesia khususnya Presiden untuk membebaskan meraka.

Korban yang diketahui bernama Hariadi (46) dan Heri, langsung dikenali pihak keluarga berdasarkan suara dan gambar tato di dada kiri Hariadi serta beberapa bentuk fisik lainnya.

Keluarga korban, Fitriani, ditemui di kediamannya di Kelurahan Kaobula, Kecamatan Batupoaro, Kota Baubau, Selasa 19 Februari 2019 cukup kaget mendengar kabar penyanderaan pamannya oleh Abu Sayyaf. Bahkan beberapa waktu lalu, pihak kementerian luar negeri juga datang menyampaikan informasi tersebut jika Hariadi bersama dua rekannya disandera pada awal Desember 2018 lalu.

"Kasian, kita minta bantuan pemerintah. Tolonglah selamatkan paman kami ini. Informasinya itu mereka ada tiga orang, cuma satu orang sudah meninggal karena kena tembak. Jadi tinggal pamanku dengan temannya Heri itu. Mudah-mudahan mereka bisa cepat diselamatkan," harap Fitriani. (B)


Penulis: Ali Hanafi
Editor: Rahmadi

Tag

Baca juga